Sholat diatas Sadjadah Curian

Sekedar membahas hubungan dunia dan akhirat… dan Ini sebenarnya tidak membahas tentang teori keagamaan secara khusus, namun hanya sedikit menyentuh teori itu.

Beberapa waktu yang lalu sempat ramai di Facebook karena isi status seperti judul artikel ini, serta artikel di Kompasiana yang berisi Fatwa MUI tentang Perangkat Lunak Bajakan. Apalagi Perangkat Lunak Bajakan itu kita gunakan untuk mencari rejeki. Rejeki apa? Apakah Berkah?kita

Mari kita luangkan waktu sejenak untuk merenungkan beberapa hal berikut:

  1. Tentunya dapat dibayangkan jika kita Shalat menggunakan serta beralaskan Sadjadah curian?
  2. Jika Anda seorang Programer, lalu berniat menjual Perangkat Lunak kemudian dibajak, gimana perasaan Anda?
  3. Jika Anda seorang Seniman, yang menjadikan Hasil Karya Seni sebagai Sumber Pendapatan, lalu Karya Anda dibajak, gimana perasaan Anda?
  4. Jika Anda seorang Tukang Makanan, kemudian ada pelanggan yang meninggalkan warung tanpa membayar, gimana perasaan Anda?
  5. Jika Anda seorang Mekanik, setelah memperbaiki kerusakan dan mengharapkan imbalan, ternyata tidak dibayar, gimana perasaan Anda ?

Disini kita belajar untuk menghormati Hasil Cipta Karya Milik Seseorang, jika hal itu menimpa kita lalu apa yang bisa kita lakukan?
Jika ternyata kita adalah pelakunya, apakah tidak malu pada diri sendiri? Menggunakan Sadjadah Curian, Membajak Perangkat Lunak dan Karya Seni, serta Melarikan Diri dari kewajiban membayar?
Akan berbeda ceritanya jika Sadjadah itu memang disediakan oleh Takmir Masjid, Perangkat Lunak itu ber-Lisensi Bebas Terbuka, Hidangan Makanan itu memang Gratis, serta Mekanik itu ikhlas memperbaiki sebuah kerusakan tanpa imbalan.
Sekian artikel singkat ini yang saya dedikasikan untuk seluruh rekan-rekan yang aktif di Organisasi Perangkat Lunak Bebas Terbuka, serta kawan-kawan yang masih setia menggunakan Perangkat Lunak Bajakan. Semoga Berkenan dan bisa meningkatkan Harkat serta Martabat Bangsa ini. Terimakasih. ;)

kutipan…

MENGAJAR TANPA KEKERASAN DAN MENYENANGKAN

Tindak kekerasan dalam dunia pendidikan tidak diinginkan oleh siapapun juga, tetapi permasalahan ini masih sering terjadi dalam dunia pendidikan yang sepatutnya menyelesaikan masalah secara educatif bukan dengan kekerasan yang mengatasnamakan pendidikan.
Kekerasan dalam pendidikan di Indonesia sering terjadi, misalnya, akhir 1997, di salah satu SDN Pati, seorang ibu guru kelas IV menghukum murid-murid yang tidak mengerjakan PR dengan menusukkan paku yang dipanaskan ke tangan siswa. Di Surabaya, seorang guru olah raga menghukum lari seorang siswa yang mengakibatkan siswa itu tewas. Dalam periode yang tidak berselang lama, seorang guru SD Lubuk Gaung, Bengkalis, Riau, menghukum muridnya dengan lari keliling lapangan dalam kondisi telanjang bulat. Bulan Maret 2002 yang lalu, terjadi pula seorang pembina pramuka bertindak asusila terhadap sisiwinya saat acara Camping. Selain tersebut di atas, banyak lagi kasus kekerasan pendidikan masih melembari wajah pendidikan kita.
Dampak dari tindakan kekerasan tersebut dapat menimbulkan kesakitan fisik atau trauma psikologis jangka panjang yang berpengaruh terhadap kepribadian anak. Tindak kekerasan dalam dunia pendidikan kadang dilakukan tanpa menyadari hak dan kewajiban anak. Sudah nyata tertera dalam undang undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Bab 3, pasal 4 yang berbunyi Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpatisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan deskriminasi. Penulis mengajak kepada para guru untuk mencari dan menggali metode mangajar yang pantas tanpa kekerasan dan menyenangkan, cukuplah sebagian 4 Guru-guru kita yang dahulu mengajari kita dengan keras, tapi jangan kita warisi tradisi itu, karena siswa sekarang tidak memerlukan tradisi itu dan hakikatnya kalau kita mengajari siswa kita sepereti guru yang mengajari kita dulu maka hal itu tidak pantas, karena siswa kita tidak hidup pada zaman guru kita, mereka mempunyai zaman mereka sendiri. Oleh sebab itu penulis mengangkat tema metodologi mengajar tanpa kekerasan dan menyenangkan ini agar guru dapat memilih dan memperkaya tehnik pembelajaran sehingga tujuan dari proses belajar mengajar itu tercapai dengan menyesuaikan gaya belajar siswa saat ini. Artikel selengkapnya disini